Suzie Sastra Inspirasi

Minggu, 26 Februari 2012

Naskah Lomba Blog Writing Competition Axis

Karmin, si Mr. Online

Karmin, dia temanku yang paling unik. Gayanya santai, kemana-mana selalu pegang hand phone. Sebenarnya intelektualitasnya biasa saja, bahkan kadang-kadang karena keluguannya, dia kerap menjadi bulan-bulanan teman-temannya. Tapi di balik kesederhanaan Karmin, aku nyaman bersamanya. Dia sering menjadi pahlawan atas berbagai kesulitanku. Suatu hari aku dibingungkan dengan program organisasiku yang mengharuskan aku berkunjung ke Jogjakarta, dengan dana yang minim aku harus berada di Jogjakarta selama beberapa hari.

“kamu kenapa, Man?” tanya Karmin.

“Aku bingung, bagaimana mungkin aku bisa bertahan satu minggu di Jogja dengan uang satu juta, aku kan nggak punya saudara atau kenalan di sana.” Sahutku.

“Oh, Jogja ya, kamu tenang saja, kamu bisa tinggal di rumah temanku, nanti aku kasi alamatnya, bilang aja teman Karmin.” ujar Karmin.Mulanya aku tak percaya, si Karmin yang secara pergaulan dengan teman-temannya direndahkan kok bisa punya teman di Jogja? Dan akhirnya keherananku terjawab sudah, aku harus berterimakasih pada Marwan, teman Karmin di Jogja yang ternyata anak orang kaya, dan ia menjamuku layaknya saudara jauh.

Hari-hari berikutnya aku terus saja berhutang budi pada Karmin. Suatu hari aku dibingungkan dengan permintaan orang tuaku untuk mencari perumnas murah di kotaku. Lalu aku berkeluh di hadapan Karmin, sejenak ia manggut-manggut mendengarkan permasalahanku. Lalu dengan santai ia berkata, “kamu tenang saja, nanti aku kasi infonya ke kamu, mudah-mudahan bisa membantu.” Lagi-lagi aku dibuat tak percaya oleh Karmin, setahuku dia tak punya saudara atau keluarga yang bekerja sebagai developer perumahan, temannya juga rata-rata cuma mahasiswa yang sibuk kuliah. Namun kembali aku dibuat tertegun saat mendapati sms darinya, ‘Man, kamu coba hubungi Ibu Feni ya, ada perumahan murah di daerah Kubang, angsuran cuma lima ratus ribu per bulan, nanti nomornya aku kirim’.

Semenjak itu aku mulai penasaran dengan Karmin. Kenapa dia bisa lebih hebat dari teman-teman di kampusku yang secara akademik punya IPK 4. Aku coba mencari tau asal usul siapa Karmin sebenarnya, tapi tetap saja tak ada hal menarik. Karmin cuma pemuda kampung yang merantau dari propinsi sebelah, ia tak punya siapa-siapa di kota ini, orang tuanya juga hanya bekerja sebagai tukang becak.

Namun rasa penasaranku akhirnya terjawab di sebuah sore yang mendung, kulihat Karmin berwajah muram tak seperti biasanya yang selalu menebar senyum.

“Kenapa, Min?” tanyaku.

“Handphone dan kartuku rusak, Man.”

“Ohh, tapi kan kamu punya dua handphone, kenapa sedihnya seperti itu?”

“Handphone yang ini nggak bisa buat online.” Sahut Karmin terus saja sedih.

“Ya kan masih ada laptop Min, kamu bisa online lebih puas pakai laptop.”

“Laptop susah Man, nggak bisa dibawa sambil tiduran. Aku kan harus selalu online.”

“Hah, kamu ini bagaimana, itu kan nggak penting banget, kok pakai ditangisin gitu.”

“Nggak Man, bagiku internet segalanya, facebookku adalah rumahku, mereka itu kehidupanku.” Gubraaakkk, kulihat air mata Karmin mengalir. Hah, dasar lebay, baru kali ini aku lihat cowok nangis cuma gara-gara nggak bisa online pakai handphone.

“Facebook-facebook, itu kan cuma ngabisin waktu kamu, Man. Coba waktu facebookan kamu pakai buat ngerjain tugas akhir kamu, kan itu lebih buat orang tua kamu seneng.” Sahutku ngotot.

“Kamu sih nggak tau, Man. Justru dengan facebook itu aku bisa lebih semangat kuliah.”

“Maksud kamu?”

“Status facebook bagiku seperti mesin pencari google, bahkan lebih canggih dari itu. Selama ini aku selalu ngasi kamu info-info penting ya semuanya aku dapatkan dari status facebookku, aku punya teman-teman baik dan pintar-pintar hampir lima ribuan.” Karmin menjelaskan. Aku cuma bengong, status facebook lebih canggih dari mesin pencari google? Huft, aku menarik nafas, ternyata si Karmin yang kira lugu adalah seorang Mr.Online kelas kakap yang bisa jadi pintar lewat bantuan facebook. Aku tak menjawab lagi, kulihat ia masih bercucuran air mata memungut kartu Axis-nya yang patah jadi dua. Aku berlalu meninggalkan Karmin, bukan untuk meninggalkannya, tapi untuk menghiburnya sejenak. Beberapa menit aku kembali menemuinya.

“Sorry Min, kalau handphone aku belum bisa bantu belikan, soalnya handphone-ku juga kamu tau sendiri kondisinya. Ini aku belikan 5 kartu Axis baru, biar kamu makin eksis online terus, pasang aja di semua di handphone kamu nanti kalau sudah ada ganti yang baru.” Tanpa kuduga Karmin tersenyum lebar, wajahnya sangat senang sambil memandangi 5 kartu perdana Axis yang kusodorkan padanya.

“Terimakasih ya Man, aku yakin akan semakin eksis dengan kartu Axis ini, barusan teman facebookku yang di Jakarta bilang, dia mau ngasi aku hadiah ipad.” Gubrakkk, ohh Karmin, lagi-lagi kau lebih mujur dari aku, nasibmu memang selalu mujur dengan internet, wahai si Mr. Online.

Read More......

Senin, 20 Februari 2012

FLP Jalan Terbaikku


Islam Satu-satunya Ideologi

Jika Islam adalah satu-satunya ideologi yang kita anggap benar, mengapa dalam bersastra kita kerap mencari referensi-referensi lain yang jauh dari nilai-nilai Islam? Dengan dalih sastra adalah kolam kebebasan yang mensahkan kita untuk belajar dari siapa saja, sementara di sisi lain kita tidak sadar, bahwa Islam adalah sebaik-baik sumber sastra.

Ada sebuah pengalaman pribadi yang menyadarkan dan membuat pikiran saya kembali tercerahkan, kita adalah pemegang peradaban tertinggi, dimana sebuah tulisan di tangan kita akan dapat kita sulap menjadi tiket menuju syurga, tak sekedar aspek finansial dan popularitas semata, karena jika hanya itu orientasi yang dibangun maka kita tiada beda dengan orang-orang di luar kita, yang berkreatifitas membabi buta tanpa memikirkan nilai dan dampaknya bagi orang lain. Kita punya tanggung jawab moral dengan apa yang kita tulis, amat naif jika kita berlepas tangan, penulis tak pernah mati ketika karyanya telah dilempar ke publik, karena kelak dia akan diminta pertanggung jawaban dengan apa yang telah ditulisnya.

Suatu ketika dengan semangat tinggi dan obsesi yang kuat, saya memberanikan diri bergabung di sebuah komunitas sastra sekuler, dengan identitas lengkap saya sebagai muslimah berjilbab menutupi tubuh dan AlQuran tersimpan rapi dalam tas, dengan karya-karya profetik yang menjadi kebanggaan saya sampai hari ini. Sampailah kepada hari dimana saya akan diwawancarai, ditanya soal komitmen terhadap komunitas tersebut. Dapat saya pastikan saat itu hanya saya yang menggenakan pakaian “aneh” dalam konteks pemikiran mereka. Saya duduk di tengah-tengah lingkaran, laksana terdakwa yang sedang diadili. Satu persatu pertanyaan saya jawab dengan datar, dan sampailah pada pertanyaan sensitif yang sudah saya terka sebelumnya, soal ideologi.

“Maaf, anda ini berasal dari Forum Lingkar Pena yang ideologinya sangat jelas berbeda dengan kami, orang-orang di komunitas anda adalah orang-orang yang terlalu fanatik dengan satu genre tulisan saja yakni religius, dan ini akan menghambat kreatifitas. Komunitas anda bukanlah pembaca yang baik, mereka terlalu memilih bacaan yang hanya sesuai dengan genrenya, novel-novel kuning mereka enggan baca, pada hal dalam konsep membaca, pembaca yang baik adalah pembaca yang tidak memilah-milah apa yang dibacanya”

Sedaya upaya saya menangkis pernyataan bertubi-tubi tersebut, ada rasa bangga di benak saya pada saat itu, saya sedang membela ideologi Allah, meluruskan anggapan-anggapan miring yang ditudingkan terhadap para da’i-da’i pena. Meskipun dalam hati saya sedih, saya sedang berbicara dengan orang yang memiliki agama yang sama dengan saya, namun sangat ekstrim terhadap orang yang berkomitmen dengan agama yang juga menjadi agamanya. Lalu dimanakah sebenarnya konteks kebebasan dalam bersastra yang mereka agung-agungkan, jika rasa ekstrimisme dan ego dalam berkomunitas masih melekat dalam diri mereka.

Ada beberapa hal yang patut menjadi catatan dari pernyataan sastrawan yang saya dapatkan tersebut;

Pertama, soal kreatifitas. Seorang dai’-dai’ pena harus memiliki rumusan yang jelas soal kreatifitas sebelum kita bersentuhan dengan persepsi kreatifitas yang ada dalam bingkai pemikiran para sastrawan sekuler. Hakikat kreatifitas adalah ketika kita menemukan sesuatu hal baru yang bermanfaat, unik dan tak pernah terpikirkan oleh orang lain. Kata kuncinya adalah manfaat, kebaikan yang jelas bagi orang yang membaca maupun bagi pribadi si penulis. Definisi ini akan menuntut arah dan langkah kita agar tak coba-coba singgah ke konteks kreatifitas yang didefenisikan para pengagum sastra sekuler, di mana dalam versi mereka kreatifitas adalah ruang tanpa batas, rumah kebebasan tanpa memperhatikan aspek dampaknya bagi diri sendiri maupun orang lain. Saya sebagai penulis muslim yang ingin berkomitmen dengan Islam tentu sangat takut jika dengan dalih kreatifitas apa yang saya tulis akan memberikan dampak buruk bagi orang lain yang membaca karya saya, dosa jariah pun mengalir, belum lagi bagaimana pertanggung jawaban saya di hadapan Allah terhadap apa yang saya tulis, padahal Allah lah yang telah memberi saya nikmat bakat dan potensi untuk menulis.

Saya tak habis pikir, kenapa masih ada orang-orang Islam yang malu dengan identitasnya sebagai seorang muslim dalam menulis. Mereka enggan memasukkan nilai-nilai Islam dalam tulisan mereka, bahkan pilihan kata sekalipun, padahal itu tak sulit bagi mereka. Mereka lebih memilih karya-karya kuning, yang justru dengan karya-karya itu nantinya akan menjerumuskan mereka, meski hari ini bergelimang popularitas.

Firman Allah SWT;

“Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkan engkau melihat mereka mengembara di setiap lembah. Dan bahwa mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)” (Qs. Asy-Syu’ara’: 224-226).

Sesungguhnya janji Allah SWT amatlah mulia terhadap orang-orang yang dengan percaya diri melebelkan Islam dalam karya-karya mereka;

Firman Allah SWT;

“Kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan berbuat kebajikandan banyak mengingat Allah dan mendapatkan kemenangan setelah terzalimi (karena menjawab puisi-puisi orang-orang kafir). Dan orang-orang yang zalim kelak akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali” (Qs. Asy-Syu’ara’: 227).

Barang kali kita juga perlu sedikit introspeksi, keterpurukan moral negeri kita juga tak terlepas dari apa yang telah mereka baca. Bacaan akan mempengaruhi pola pikir, mental dan pada gilirannya tindak perbuatan. Sebagai penulis, tak takutkah kita turut berkontribusi menyumbangkan dosa jariah terhadap orang lain? Kerusakan pola pikir dan prinsip hidup dampaknya akan lebih luas ketimbang kerusakan alam. Karena jika pengelola alam ciptaan Allah ini sudah memiliki pola pikr yang salah, maka bagaimana ia akan menjadi hamba Allah dan pemimpin di muka bumi? Kerusakan berantai akan terus terbentuk.

Kedua, konsep pembaca yang baik. Jika kita kembali kepada tujuan asal seseorang membaca, maka faktor terbesar yang akan kita dapati sebagai alasan terkuat orang membaca adalah mencari nilai kegunaan dan manfaat dari apa yang dibacanya, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Manfaat sejatinya adalah kebaikan, jadi seseorang yang membaca tak lain ingin memperoleh kebaikan dari apa yang dibacanya. Seseorang akan tau apa yang dibacanya memberi manfaat atau tidak untuk dirinya adalah dari pengaruh yang muncul setelah dia membaca. Efek apa yang akan terbentuk setelah kita membaca sesuatu, cara berpikir yang bagaimana yang akan kita peroleh, jika sama sekali tak ada nilai kebaikan yang didapat, maka boleh dikata kita bukanlah pembaca yang baik. Pendek kata, pembaca yang baik adalah pembaca yang mampu menyeleksi dan mengerti bahwa apa yang dibacanya akan membawa nilai manfaat dan kebaikan bagi dirinya.

Pemaparan saya ini sedikit menjawab sebuah konsep membaca yang dilontarkan pada saya di forum wawancara saya dengan komunitas sastra di atas. Saya pikir terlalu liberal jika mengamini sebuah konsep membaca yang mengatakan bahwa, pembaca yang baik adalah pembaca yang mau melahap semua bacaan, dengan dalih bagaimana kita tahu sesuatu itu buruk jika kita tidak pernah membacanya. Pertanyaannya, sudahkah kita membaca ribuan buku lain yang sudah jelas terakreditasi nilai manfaatnya di sekeliling kita? Lalu kenapa kita habiskan waktu untuk membaca sesuatu yang samar, yang malah lebih dominan nilai kemudharatannya ketimbang nilai maslahatnya?. Seberapa besar kita mampu menjamin bahwa orang yang membaca sebuah bacaan tak layak akan sanggup bertahan pola pikirnya. Sedikit banyak apa yang kita baca akan memberikan dampak bagi konsep berpikir. Sebuah pengecualian bisa kita berikan kepada mereka-mereka yang memang sudah terbukti tidak tergoyahkan prinsip dan gaya pemikirannya setelah membaca buku-buku tersebut. Pertanyaannya siapakah mereka? Apakah semua orang bisa?. Secara naluri pribadi kita tentu dapat memberikan jawaban jujur bahwa apakah kita termasuk golongan yang mampu resisten atau sebaliknya. Dalam konteks ini tidak adil rasanya jika kita menyalahkan orang-orang yang tetap bertahan tidak membaca bacaan-bacaan “kuning” dengan dalih ketidaksanggupan mereka memfilter apa-apa yang dibaca, atau prinsip lain yang menjadikan mereka begitu yakin bahwa memilah bacaan adalah hal yang sangat diperlukan.

Kesimpulan dari interview saya dengan komunitas saya sebutkan di atas adalah saya ditolak untuk bergabung dengan komunitas tersebut. Sebuah keputusan yang saya pikir cukup membahagiakan saya dalam konteks posisi saya sebagai dai pena waktu itu. Paling tidak ada prinsip yang begitu mengakar yang coba saya lontarkan untuk menggentarkan orang-orang yang memilih ideologi selain Islam, padahal mereka muslim. Namun di sisi lain ada kesedihan mendalam di hati saya, pada perspektif saya sebagai seorang pembelajar, saya merasa sangat dikerdilkan dengan posisi dan ideologi yang saya yakini. Islam yang begitu mulia seakan ditempatkan pada posisi yang sangat rendah, ketika Islam sudah meresap ke dalam sebuah tulisan, seolah dipandang sebagai tulisan miskin kreatifitas, bacaan normatif yang dianggap sebagai guru yang membosankan, atau malah hanya sebagai sampingan yang tidak diakui akreditas nilainya.

Lalu seketika muncul kerinduan saya terhadap komunitas berideologi Islam yang sudah membesarkan saya. Bagaimana kadang langkah perjuangan kita masih tertatih dengan masalah-masalah internal organisasi, masalah kualitas dan ketidakproduktifan kita dalam berkarya. Sementara kita tidak tahu orang-orang di luar sana yang benci dengan eksistensi Islam telah memerangi kita dari berbagai celah. Kita dianggap seperti buih di lautan, besar hanya dengan kuantitas namun miskin kualitas. Paling tidak ini menjadi catatan penting bagi kita mengevaluasi gerak langkah ke depan, yang terpenting adalah keyakinan dan keistiqomahan dengan ideologi Islam yang kita jalani. Melahirkan tulisan-tulisan bagi kita hakikatnya dengan mengajak orang untuk kembali kepada Allah SWT, kembali kepada nilai-nilai kebenaran yang akan mengantarkan kita pada kebahagiaan dunia dan akhirat. Adakah tujuan yang lebih mulia selain dari tujuan itu? maka kenapa kita masih malu dengan ideologi Islam?.

Saudaraku, dakwah ada di mana-mana. Siapapun dan apapun profesi kita, ketika kita sudah memulai menyingsingkan baju untuk menegakkan hukum-hukum Allah dan nilai-nilai Islam maka sudah menjadi sunnatullah di sana pulalah kebatilan akan menghadang kita. Menjadi penulis maupun sastrawan muslim tidak cukup hanya dengan membanggakan kebesaran karya, ada hal penting yang sangat-sangat esensial yang terkadang kita lupa dan itu membuat apa-apa yang kita tulis menjadi keropos dan tak bernilai di mata Allah SWT.

Pernahkah kita merujuk bagaimana para penulis Islam mampu menciptakan sesuatu yang sangat besar tak hanya bagi manusia namun juga bagi eksistensi dakwah Allah di muka bumi. Barangkali hari ini kita lebih hafal riwayat hidup sastrawan-sastrawan sekuler ketimbang bagaimana tangisan seorang Abdullah bin Rawahah ketika mendengar kritikan Allah SWT terhadap para penyair sesat. Ini adalah sebuah pelajaran, Islam adalah sebaik-baik sumber hukum dan tempat belajar, Islam adalah satu-satunya ideologi yang paling benar.

Kita harus malu, kenapa kita tidak membanggakan syair-syair yang ditulis Abdullah Rawahah, yang dengan syair itu memberi jaminan bagi beliau untuk bernaung di jannah Allah. Lalu jaminan apakah yang akan kita dapatkan ketika kita begitu fanatik dengan syair-syair yang ditulis para penyair sesat, yang dengannya menyebabkan kita menjadi kabur, tidak peka dengan sebuah kebenaran, bahkan menganggap sebuah kemelencengan sebagai hal yang lumrah dalam konteks kebebasan bersastra. Malu saudaraku, mari kita tanamkan perasaan malu dalam diri kita. Kita adalah muslim, kita adalah para dai yang Allah bekali dengan pena untuk melawan musuh-musuh Allah, lalu kenapa pena kita terkadang kita gunakan untuk bekerja sama dengan musuh, atau malah kita sendiri yang menumpulkan nilai-nilai dakwah mata pena kita. Wallahu a’lam bishawab. (Oleh: Sugiarti/ Ketua FLP Wilayah Riau)

Read More......

Senin, 13 Februari 2012

Lomba Axis, 'Eksis dengan Internet'

Info: http://duniaaxis.co.id/

Read More......

Rabu, 08 Februari 2012

Bom Buku: Pelecehan Dunia Literasi


Bom Buku: Pelecehan Dunia Literasi

Hakikat Keberadaan Buku

Buku adalah jendela dunia, melalui buku mata kita akan terbuka melihat indahnya sudut-sudut dunia yang mungkin saja tak pernah terjangkau oleh panca indra. Buku telah menjadi ruang khusus bagi kita untuk melongok menyaksikan kemajuan-kemajuan di seluruh penjuru dunia. Bagaimana orang bisa hidup kaya dan maju, hidup sukses layaknya warga negara-negara maju, perkembangan teknologi dan ilmu pengetahun dan seterusnya, semuanya dapat kita peroleh melalui teman setia yang tak pernah marah dan bosan menemani kita, dia lah buku.

Tak ada juga yang mampu menyanggah bahwa buku adalah sang guru sejati. Guru yang selalu mau mengajari dan menemani kita kapan pun dimana pun dan dalam kondisi apapun. Buku mengajari pembacanya dengan telaten, ia tak se-killer guru matematika pada zaman dahulu yang akan memukul dan bersikap memarahi jika sang murid sulit mengerti dengan penjelasan. Buku adalah guru yang setia menemani kita pada saat dan situasi pikiran sedang seburuk apapun.

Ilmu dan informasi yang didapatkan oleh manusia salah satunya tersaji melalui kehadiran lautan buku. Ibarat menu makanan yang terhidang di meja makan, buku menyajikan aneka ragam gizi pilihan yang menyehatkan orang-orang yang mengkonsumsinya. Dapat dibayangkan bagaimana jika seseorang tak makan, ia akan kekurangan gizi, sumber tenaga dan pada akhirnya akan jatuh sakit. Inilah analogi serupa jika manusia jauh dengan buku. Buku layaknya makanan, ia akan memberikan suplay gizi pada kecerdasan seseorang. Intelektualitas seseorang akan meningkat jika ia gemar membaca aneka ragam menu-menu buku.

Menjawab Persoalan Bom Buku

Melihat begitu vitalnya peran buku di tengah kehidupan manusia, munculnya kasus-kasus teranyar soal bom buku menjadikan luka perih bagi para penggiat dunia literasi tanah air. Sebutlah misalnya kasus bom buku Utan Kayu yang dialamatkan kepada aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL) Ulil Abshar Abdala, atau kiriman paket buku serupa kepada musisi kondang Ahmad Dani. Kasus-kasus ini setidaknya memberikan beberapa analisa penting, yaitu;

Pertama, bom buku merupakan upaya konspirasi menjauhkan antara ‘si kutu’ dengan si buku. Musuh bersama Indonesia yang harus diperangi adalah kebodohan. Buku merupakan salah satu obat kebodohan manusia. Jauh dari obat artinya tetap tak ingin sembuh dari penyakit. Bom buku merupakan cara yang cukup ampuh untuk membuat seseorang menjadi was-was, khawatir dan takut saat menyentuh buku.

Sadar tidak sadar, kasus bom buku memicu sebagian orang merasa takut untuk melakukan pembelian terhadap buku, membuka buku-buku baru dan melakukan transaksi pengiriman paket-paket buku. Hal ini tentu saja akan sangat berimbas pada stagnansi penyakit kebodohan yang memang telah ada pada lingkungan masyarakat Indonesia. Jika Indonesia bodoh, dapat kita terka siapa yang akan senang dengan kondisi ini, tentulah pihak-pihak yang tak menginginkan Indonesia terbebas dari beragam bentuk penjajahan akan bersorak gembira dengan kondisi ini.

Kedua, bom buku merupakan tindakan pelecehan terhadap dunia literasi tanah air. Menulis buku merupakan salah satu tradisi intelektual yang harus diwariskan dari generasi ke generasi. Munculnya kasus bom buku secara langsung menorehkan luka dan noda hitam terhadap dunia literasi yang selama ini cukup konsisten pada dunia edukasi. Tindakan pelecehan ini akan mendorong orang untuk beranggapan miring terhadap dunia literasi secara umum. Ujung dari anggapan miring itu sendiri adalah sepi dan matinya dunia perbukuan. Inilah imbas paling parah yang dikhawatirkan. Akibatnya Indonesia selamanya akan terjerat dengan keterpurukan multi krisis yang melilit bangsa dari masa ke semasa.

Ketiga, kasus bom buku memberikan lampu kuning kepada para penulis agar mulai memakai sabuk pengaman dalam menulis. Jika seorang penulis tak ingin mengalami ‘kecelakaan politik’ dalam menulis, maka ada banyak hal kode etik yang harus diperhatikan seorang penulis dalam melahirkan karya. ‘Kecelakaan politik’ dapat menyebabkan seorang penulis terjerat pada bidikan anak panah isu terorisme yang sedang menjadi kampanye perlawanan global di seluruh dunia.

Meskipun kasus bom buku secara menyeluruh menimbulkan keresahan di kalangan para penggiat literasi, penulis sebagai sang tokoh utama terbitnya sebuah buku tak perlu ciut nyali. Teror terhadap dunia literasi sejatinya justru lebih memicu semangat dan motivasi para penulis untuk terus menuliskan buku-buku bernilai edukasi, pencerahan dan manfaat kepada masyarakat.

Penulis adalah sumber mata air ilmu, ia akan kreatif menggali dan memandang menu kebutuhan yang berkembang di masyarakat untuk ia sajikan dalam bentuk buku. Hal terpenting bagi para penulis adalah membuktikan kualitas karya, bukan menimbulkan keresahan dengan karya-karya tersebut. Para aktivis buku juga perlu meyakinkan pada masyarakat, bahwa kasus bom buku sama sekali tak ada kaitannya dengan para penggiat dunia literasi itu sendiri. Ada kepentingan lain yang dititipkan melalui kasus-kasus bom buku. (Oleh: Sugiarti, S.si/ Ketua Forum Lingkar Pena Wilayah Riau. Dimuat di Harian Riau Pos, Maret 2011)

Read More......

==Sayembara Penulisan Naskah Buku Pengayaan 2012==

==Sayembara Penulisan Naskah Buku Pengayaan 2012==


Dalam rangka menggali, mengembangkan, dan mendayagunakan potensi menulis di kalangan siswa, pendidik dan tenaga kependidikan, serta masyarakat umum. Pusat Kurikulum dan Perbukuan Balitbang Kemdikbud menyelenggarakan Sayembara Penulisan Naskah Buku Pengayaan. Kegiatan sayembara ini diperuntukkan bagi para peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan, serta masyarakat umum. Sayembara Penulisan Naskah Buku Pengayaantahun 2012 ini memperebutkan hadiah total lebih dari Rp 1.000.000.000,00 untuk 57 pemenangdari 19 jenis naskah buku pengayaan.

Tema Penulisan
“Membangun manusia Indonesia yang berkarakter, berbudaya, dan kompetitif di era global”


Peserta Sayembara
Peserta sayembara adalah siswa SMA/MA/SMK/MAK, pendidik dan tenaga kependidikan, serta masyarakat umum. Pendidik meliputi guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan. Tenaga kependidikan meliputi pengelola satuan pendidikan, penilik,pengawas, peneliti, pengembang, pustakawan, laboran, dan teknisi sumber belajar.

a. Ketentuan Umum
1. Jenis naskah buku pengayaan pengetahuan alam dan matematika, dapat berupa pengetahuan alam fisik, hayati, flora, fauna; pengetahuan matematika; pengetahuan teknologi dan rekayasa; pengetahuan kebaharian, kedirgantaraan, dan kebumian.
2. Jenis naskah buku pengayaan pengetahuan sosial dan humaniora, dapat berupa pengetahuan sejarah dan kemasyarakatan; pengetahuan keagamaan; pengetahuan perekonomian dan manajemen; pengetahuan budaya, bahasa, seni dan sastra.
3. Jenis naskah buku pengayaan keterampilan vokasional yang meliputi:

  • Keterampilan membuat kriya;
  • Penerapan teknologi rekayasa sederhana;
  • Penerapan teknologi pengolahan;
  • Penerapan teknologi budidaya.

4. Jenis naskah buku pengayaan kepribadian, dimaksudkan untuk mengembangkan karakter: (1) religius; (2) jujur; (3) toleransi; (4) disiplin; (5) kerja keras; (6) kreatif; (7) mandiri; (8) demokratis; (9) rasa ingin tahu; (10) semangat kebangsaan; (11) cinta tanah air; (12) menghargai prestasi; (13) bersahabat/komunikatif; (14) cinta damai; (15) gemar membaca; (16) peduli lingkungan; (17) peduli sosial; (18) tanggung jawab yang dituangkan dalam:

  • Kumpulan pantun
  • Kumpulan puisi
  • Kumpulan cerita pendek
  • Novel
  • Drama
  • Biografi

Naskah buku Biografi, tentang:

  • seseorang yang berjasa dalam suatu bidang yang berguna bagi masyarakat;
  • seorang tokoh di daerah yang mendapat penghargaan dari pemerintah;
  • seseorang yang memiliki karakter yang dapat dijadikan contoh bagi bangsa;
  • seseorang yang memiliki keunggulan dan kelebihan yang berguna bagi masyarakat.

5. Naskah buku ditulis dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Naskah diberi identitas: (a) judul naskah; (b) jenis naskah; dan (c) peruntukan pembaca buku (misalnya untuk SD/MI; SMP/MTs; SMA/MA/SMK/MAK), (d) kelompok peserta.
6. Naskah dijilid rapi berupa cetak asli (bukan fotokopi atau dummy).
7. Naskah yang diterima Panitia tidak dikembalikan.

b. Ketentuan Peserta

  1. Peserta adalah perorangan.
  2. Peserta yang mengirimkan naskah harus melampirkan biodata.
  3. Peserta dari siswa SMA/MA/ SMK/MAK harus melampirkan surat pengantar dari sekolah dan fotokopi kartu pelajar.
  4. Peserta dari pendidik dan tenaga kependidikan harus melampirkan surat pengantar dari lembaga tempat bekerja dan fotokopi SK pendidik atau tenaga kependidikan.
  5. Peserta dari masyarakat umum harus melampirkan fotokopi KTP yang masih berlaku.
  6. Peserta yang pernah menjadi pemenang sebanyak tiga kali atau lebih sejak tahun 2001 tidak diperbolehkan mengikuti sayembara ini.

c. Ketentuan Naskah

  1. Naskah yang diajukan adalah: a. karya asli, b. tidak berseri, c. tidak sedang diikutsertakan pada sayembara lain, sebagian ataupun seluruhnya, d. belum pernah menjadi pemenang sebagian ataupun seluruhnya dalam sayembara mana pun, dan e.belum pernah diterbitkan sebagian ataupun seluruhnya.
  2. Persyaratan di atas harus dituangkan dalam surat pernyataan yang ditandatangani di atas meterai Rp 6.000,00 oleh penulis naskah.
  3. Naskah diketik dan dicetak pada kertas A4, spasi 1½, jenis huruf arial, times new roman, atau tahoma, ukuran huruf 12 pt, batas margin tepi kertas 3 cm.
  4. Jumlah halaman isi naskah yang ditulis oleh siswa minimal 50 halaman dan yang ditulis oleh pendidik, tenaga kependidikan, dan umum minimal 75 halaman.
  5. Penggunaan ilustrasi harus proporsional dan terintegrasi dengan teks, mendukung materi/isi teks serta mencantumkan sumber secara jelas.
  6. Naskah buku pengayaan tidak dilengkapi dengan ungkapan tujuan mempelajari/membaca dan tidak dilengkapi latihan, soal, tes, lembar kerja, atau jenisevaluasi lainnya.
  7. Naskah buku pengayaan tidak bertentangan dengan idiologi negara, ketentuan dan perundang-undangan yang berlaku, tidak bias gender, serta tidak menimbulkan masalah SARA.
  8. Naskah buku pengayaan pengetahuan dan keterampilan harus menggunakan daftar pustaka atas rujukan yang dikutip.
  9. Naskah yang dinyatakan sebagai pemenang sayembara, jika ditemukan dan terbukti sebagian atau seluruhnya merupakan jiplakan/plagiasi, segala tanggung jawab hokum yang berkaitan dengan pelanggaran Hak Cipta berada pada penulis naskah. Pusat Kurikulum dan Perbukuan akan membatalkan kemenangannya dan hadiah yang diterima harus dikembalikan kepada negara.
  10. Jika suatu naskah buku pengayaan dinyatakan memenangi sayembara, penulis berhak atas penghargaan sayembara tersebut, sedangkan hak cipta (baik hak ekonomi maupun hak moral atas naskah) tetap berada pada penulis sehingga penulis berhak menerbitkannya kepada penerbit yang dipilih.
  11. Pemegang hak cipta (hak ekonomi) naskah pemenang sayembara adalah Pusat Kurikulum dan Perbukuan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan hak moral berada pada penulis.
  12. Setiap peserta hanya boleh mengirimkan satu judul naskah sayembara.
  13. Hasil keputusan Dewan Juri Sayembara tidak dapat diganggu gugat.

d. Hadiah Sayembara
Untuk menghargai kualitas naskah yang memenangi sayembara, Pusat Kurikulum dan Perbukuan Balitbang Kemdikbud menyediakan hadiah uang sebagai berikut:

Kelompok Pelajar:
Juara I = Rp. 15,000,000
Juara II = Rp. 10,000,000
Juara III = Rp 7,500,000

Kelompok Pendidik, Tenaga Kependidikan, dan Masyarakat Umum
Juara I = Rp 25,000,000
Juara II = Rp 20,000,000
Juara III= Rp 15,000,000

e. Pengiriman Naskah
Naskah diterima paling lambat tanggal 3 September 2012 dan dialamatkan kepada :
Panitia Sayembara Penulisan Naskah Buku Pengayaan Tahun 2012
Pusat Kurikulum dan Perbukuan
Badan Penelitian dan Pengembangan
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Jl. Gunung Sahari Raya No. 4 Jakarta Pusat

f. Pengumuman Pemenang
1. Pengumuman dan pemberian hadiah kepada para pemenang akan dilaksanakan padabulan November 2012.
2. Calon pemenang sayembara akan diundang ke Jakarta untuk mengikuti wawancara dengan Dewan Juri dan menghadiri pengumuman pemenang bagi calon yang dinyatakan sebagai pemenang. Jika calon pemenang tidak dapat mengikuti wawancara, maka yang bersangkutan dianggap mengundurkan diri.

Informasi lebih lanjut tentang sayembara dapat menghubungi Pusat Kurikulum dan Perbukuan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan website : http://puskurbuk.net , telp.: 021 3804248 , e-mail:sayembara_puskurbuk@yahoo.com facebook: sayembarapuskurbuk

Read More......

PESAN NAFIAH


codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=8,0,0,0"
width="400" height="56" id="TextSpace">






LCD Text Generator at TextSpace.net

 

Home | Blogging Tips | Blogspot HTML | Make Money | Payment | PTC Review

Nafiah AlMa'rab © Template Design by Herro | Publisher : Templatemu